Puisi-puisi ‘BIRU’ Alma Idah

Alma Idah - 1

Kalimat-kalimatnya sederhana namun menggoda. Jujur dan tulus. Cerminan suara hati. Oleh karenanya, puisi-puisinya langsung menyentuh hati. Begitulah goresan-goresan puisi Alma Idah, seorang Alumni Arsosdasmax 90. Saya menyebut puisi-puisinya sebagai PUISI-PUISI ‘BIRU’. Mengapa demikian? Pertama, puisi-puisi yang dituliskannya sungguh mencerminkan ‘biru’-nya hati, ‘biru’-nya cinta (betapa jujur dan tulus cintanya), dan mem-‘biru’-kan perasaan pembacanya. Kedua, Alma Idah adalah penyuka warna biru.🙂 Sebagai salah seorang penggemar karya-karya puisinya, jujur harus saya katakan, bahwa perasaan saya seringkali menjadi ‘biru’ ketika membaca puisi-puisi Alma Idah.

Berikut ini adalah sebagian kecil goresan hati Sobat saya itu yang saya nukil dari akun facebook-nya (semoga ia tidak keberatan karena saya tidak ijin sebelumnya, sengaja sih, dengan niatan sebagai sebuah kejutan dan penghargaan saya atas karya-karya puisinya). Selamat menikmati puisi-puisi biru dan semoga Anda ‘terbirukan’…🙂

Aku ingin menarikan syair-syair yang begitu menggoda dalam alam sunyiku
Aku ingin mengajak semua kata untuk kurangkai dalam untaian doa
Dalam dialog tanpa basa basi
Hingga malam semakin menggoda kesunyian
Aksara-aksara dalam otakku menyesatkan penaku dalam lingkaran kerinduan
Aku tak akan menuliskan walau hanya dalam sebuah goresan
Biarkan menggigil dalam jiwaku
Dalam goresan yang aku mau
Seliar apapun kesunyianku
Aku hanya menggoda syair-syairku untuk berbagi denganku
Hanya untuk aku dan puisiku
Tak satupun aku berikan untuk penghuni kesunyian yang lain… tak satupun
Walau hanya satu aksara…
-8 November 2015-

Beri aku inspirasi
Untuk hidup dalam cintamu
Karena detak jantungku
Adalah kamu… Puisiku
-20 November 2015-

Selamat pagi Puisi…
Maaf… kupaksa kamu mengeja aksara dengan terbata bata
Berulang kali…
-7 Desember 2015-

Alma Idah - 2

Selamat pagi Puisi
Aku berikan jeda untuk tidak memaksamu merangkai kata
Ada rambu-rambu yang mengharuskan aku harus berhenti
Dan memberikan ruang waktu untukmu
Bisa saja kau melanggarnya
Tapi aku yakin…
Kau tau saat saat terindah kita untuk saling memagut syair…
Untuk saling berbalas rasa…
Puisikanlah aku dalam hatimu…
Meski ada jeda waktu yang mengharuskan kita diam tak saling mengeja kata…
-8 Desember 2015-

Kekasih…
Aku titipkan airmata cintaku
Ke sungai untuk dipulangkan ke laut
Aku minta, jagalah di muara
Bertemankan pesisir yang setia menjemput ombak
Ijinkanlah wahai Kekasih…
Rindu ini menjadi butir-butir pasir menemani diamnya pantai
Sebab Cinta ini telah jadi hujan
Dan engkau memang milik samudra…
-20 Desember 2015-

Saat satu warna pelangi telah redup oleh lelap, penghuni sepi mulai mengembara. Mencari warna warna lain yang masih sanggup menerangi kegelapan di antara kesunyian yang memeluknya…
-21 Desember 2015-

pada hujan…
pada malam…
dan pada setiap kegelisahan…
aku merindukanmu bagai mentari tertutup kelambu
aku merindukanmu bagai air yang menggenang malu
aku merindukanmu bagai seonggok kopi tercelum rasa manis
aku merindukanmu bagai setetes embun penyejuk amarahmu
aku merindukanmu bagai bulan menerang gelapmu
aku merindukanmu bahwa selalu ada cinta dalam sebuah bahasa
AKU MERINDUKANMU….PUISIKU
-10 Desember 2015-

sayang… bisakah kau ajari aku menyiangi kerinduan
ia tak kenal musim dan sama sekali tak punya rasa hormat
tumbuh dan mekar kapan saja
menyemaki rongga dada
bisakah kau ajari aku menjinakkannya
sudah kusiapkan lahan subur baginya
di sudut hati
di mana dia dapat leluasa tumbuh dan berbunga
aku hanya minta jangan bermain-main dengan jantungku
mengubah-ubah degupnya tanpa peduli aku kuat atau tidak
aku siap atau tidak
barangkali aku salah dan terlalu menganggap remeh
senyum yang dulu kau jatuhkan di hamparan semak sunyiku
kini lihatlah betapa cepat dia tumbuh
dan membelukar menyumbat jalan darah, jalan nafas, jalan akal
aku rabun disekap rimbun ranting dan daunnya
sekarat diamuk nektar madunya
sayang… bisakah kau ajari aku menyiangi kerinduan ini
karena kaulah yang dulu
menjatuhkannya di sini, di hatiku…
-26 Desember 2015-

Aku ingin tetap disini, bersamamu, mesra
Ditemani peri-peri kecil yang setia menarikan irama kidung cinta
Mengajakmu ikut bersenandung lirih membisikkan pada mimpi
Menggantikanmu saat lelap merenggut binar mataku
Saat aku terjaga, aku ingin kaulah yang kurasa
Jangan pergi, mesra.
Temani aku dan puisiku…
-7 Januari 2016-

Salam ‘BIRU’
Sonnef -arsosdasmax-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: