Di Balik Batu

A - Batu-2

Batu adalah benda alam biasa yang sudah ada seiring proses penciptaan semesta. Keberadaannya senantiasa ada di sekitar kita dalam berbagai bentuk dan warna, dimanfaatkan sedemikian rupa oleh manusia, dari hal sepele hingga istimewa. Namun demikian, kebanyakan dari batu itu terabaikan begitu saja, berserakan di halaman, pinggir jalan, lahan kosong, lapangan, atau tempat-tempat lainnya. Tak jarang ia dimanfaatkan sebagai alat permainan oleh anak-anak.

Beberapa tahun terakhir, batu tiba-tiba saja naik daun. Menjadi benda yang dicari dan diburu banyak orang, bahkan terkadang malah menjadi rebutan, menjadi benda bernilai yang terkadang harganya sangat mengejutkan.

Sebenarnya jenis batu tertentu sudah lama dimanfaatkan manusia sebagai perhiasan. Tangan-tangan terampil dan kreatif dengan keahlian tersendiri mampu membentuk batu-batu itu menjadi benda berharga. Malah ada juga yang menganggap batu tertentu memiliki kekuatan ghaib yang bisa membawa manfaat bagi pemiliknya. Sebagai penglaris dagangan, pembuka rejeki, obat beragam penyakit, kesaktian dan lain-lain.

A - Gunung Batu
A - Batu-1

Batu memang tempat bersemayam atau tempat tinggal mahluk ghaib sebangsa jin. Tentu kita sering mendengar adanya batu cincin atau batu perhiasan lainnya yang memiliki ‘isi’. Maksudnya adalah di dalam batu tersebut ada jinnya atau ada juga yang menyebut batu berqadam. Batu-batu seperti ini dipercaya memiliki kekuatan atau manfaat tertentu bagi pemiliknya. Ada syarat dan pantangan yang musti diikuti sang pemilik bila ingin mendapatkan manfaat darinya. Tentu yang demikian tidak dibenarkan berdasarkan ajaran Islam karena membuat manusia terjerat pada perbuatan syirik (meyekutukan Allah) dengan menganggap batu itu bertuah atau memiliki kekuatan.

Yang kerap terlupakan dari keberadaannya adalah bahwa batu merupakan salah satu wujud Ciptaan Allah. Sebagaimana mahluk-mahluk lainnya di penjuru alam raya ini, batu pun senantiasa bertasbih mengagungkan Sang Khalik. Melalui proses alam puluhan, ratusan, bahkan jutaan tahun… seiring lafal-lafal pengagungan kepada Allah, batu-batu itu terbentuk dengan ciri dan keistimewaan tersendiri. Bahkan mahluk-mahluk lainnya yang telah mati, melalui proses yang sama… mengeras, menjadi fosil, dan membatu. Oleh karena itu… kegemaran, kecintaan, dan kekaguman kita kepada keindahan dan keistimewaan batu (apapun bentuk dan nama batu tersebut), hendaknya disandarkan pada kekaguman atas Keagungan Allah, memuji Kebesaran-NYA. Tentu saja karena Allah-lah yang menciptakan semua itu. Kesadaran atas Keagungan Sang Khalik semestinya dibangun dan dihidupkan pada diri agar kita tidak kebablasan untuk selanjutnya bisa saja terjebak dalam perilaku syirik(nau’dzubillahimindzaalik).

Sebagai benda alam yang bertasbih, batu dapat menyerap energi sekitarnya. Misalkan saja ketika kita berdzikir, cincin batu yang kita pakai di jari ataupun batu-batu dan benda alam lainnya di sekitar kita akan menyerap energi dzikir tersebut tanpa mengurangi efek positif yang semestinya kita dapatkan dari aktifitas berdzikir itu. Dan mereka akan menjadi saksi atas apa yang kita lakukan. Demikian pula sebaliknya ketika kita melakukan hal-hal negatif.

Segala sesuatu terjadi dan terbentuk hanya semata karena Kehendak Allah. Dan seluruh alam semesta beserta isinya bertasbih kepada Allah. Maka hanya kepada Allah-lah kita sandarkan segala puji. Hanya kepada Allah-lah seharusnya kita memohon dan meminta pertolongan.

Salam Batu,
SONNEF
Jkt, 9/6/2015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: