Masjid ‘CINTA’

masjid-cinta-jg

Saya yakin bahwasannya saya bukanlah orang pertama yang menulis tentang Masjid indah ini. Namun begitu, saya tetap ingin menyampaikan sesuatu melalui tulisan tentang Masjid ini dari sudut pandang yang lain setelah diberi kesempatan berkunjung ke sana bersama keluarga pada 29 Desember 2014 lalu.

Cerita tentang keluarbiasaan Masjid Turen sudah lama saya dengar dari Saudara dan Teman yang pernah berkunjung ke sana. Masjid tersebut dikenal sebagai “Masjid Tiban” alias tahu-tahu sudah ada tanpa diketahui siapa yang membangun. Konon katanya, Masjid tersebut dibangun oleh Bangsa Jin (mengingat keberadaannya dan keindahannya yang luar biasa).

Ketika saya akhirnya berkesempatan untuk berkunjung ke sana, maka kalimah “Masya Allah” dan “Allahu Akbar” seringkali meloncat dari lidah demi mengagumi kenyataan yang saya saksikan. Dari sisi arsitektur, Masjid tersebut adalah LANDMARK kehebatan arsitektur budaya Islam. Dari sisi rohani, ini adalah salah satu bukti KEBESARAN ALLAH SWT.

Masjid ‘tiban’ Turen Malang ternyata sebenarnya adalah bagian dari komplek besar sebuah Pondok Pesantren yang belakangan saya ketahui pondok tersebut bernama Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang makna singkatnya adalah Lautan Madu atau Segorone Rohmat.

Pihak Pesantren menyatakan bahwa Masjid tersebut tidaklah dibangun oleh Jin sebagaimana cerita yang beredar dan berkembang di masyarakat luas, melainkan dibangun oleh Santri-santri Pesantren atas pengarahan dan perintah Romo Kiyai Ahmad yang tak lain adalah Pemimpin Pesantren tersebut.

Menurut cerita seorang teman, ada saudara dari temannya memberikan kesaksian bahwa ia terlibat dalam pembangunan Pesantren tersebut. Pengerjaannya dilaksanakan malam hari sehingga tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Menurut seorang Saudara saya yang berguru pada seorang Kiyai Thoriqot di sebuah daerah di Jombang, Pesantren tersebut juga merupakan sebuah Pesantren Thoriqot yangmana Sang Kiyai (Romo Kiyai Ahmad) adalah seorang Kiyai yang oleh Allah Diberi kelebihan dan kemampuan tersendiri. Sehingga tidaklah mengherankan apabila Beliau mampu membangun Pesantren dan Masjidnya dengan luar biasa.

masjid-cinta

Penelusuran saya terus berlanjut hingga menemukan fakta lainnya bahwa Pesantren dan Masjid “Spektakuler” itu dibangun atas dasar “CINTA”. Ya, CINTA menjadi dasar dari pembangunannya. Mengerjakan bentuk bangunan besar nan unik dan antik, ornamen-ornamen rumit serta detail-detail aksen arsitektur yang begitu rupa, tentu tidak bisa dilakukan sembarangan atau asal dikerjakan. Perlu kesungguhan, kesabaran dan ketelatenan ekstra. Kesungguhan, kesabaran, dan ketelatenan dalam proses pengerjaan tiap-tiap bagian menjadi semacam amalan para Santri. Amalan ini pada gilirannya menumbuhkan CINTA pada diri mereka. Dan sesungguhnyalah Islam adalah AGAMA CINTA dan MENGAJARKAN CINTA. Maka apa yang dibangunnya menjadi sebuah BANGUNAN CINTA. Oleh karenanya dari sana memancar AURA CINTA sehingga mengundang masyarakat berbondong-bondong datang berkunjung untuk mendekat pada SANG MAHA CINTA. Dan diharapkan mereka datang bukan karena niatan-niatan yang lain selain niatan Ibadah pada Sang Khalik dengan CINTA. Pulangpun membawa CINTA.

Kenyataan bahwa Masjid dan Pesantren tersebut dibangun atas dasar CINTA memang diakui oleh pihak Pesantren. Dan hal itu adalah bagian dari pendidikan dan amalan-amalan yang diterapkan dalam Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah kepada para Santrinya.

Pesan CINTA tersebut sebenarnya tergambar jelas pada setiap mata memandang. Selain ornamen dan detil aksen yang rumit dan indah, bertebaran pahatan kaligrafi menggambarkan Kebesaran dan Keagungan Nama Allah serta Ayat-ayat Suci Al Qur’an. Selain itu, keberadaan benda-benda tertentu di dalamnya juga menyiratkan CINTA, seperti misalnya batu-batu besar di dalam dan di atas Masjid.

Saya sempat dibuat terheran-heran ketika melihat sebuah batu sebesar “truk” di tengah kolam di lantai… aduh… saya lupa lantai berapa… 3, 4, atau 5 ya… serta beberapa batu besar lain yang belum ditata di lantai-lantai atas. Bagaimana batu sebesar itu bisa berada di sana? Bagaimana cara mengangkat dan meletakkannya di sana? Namun setelah mengetahui adanya dasar CINTA dalam pembangunan Pesantren dan Masjid tersebut, saya menyadari… CINTA memiliki kekuatan dahsyat dan luar biasa. Kalau CINTA sudah merasuk di jiwa… kita tak akan pernah menduga kekuatan apa yang bisa dihadirkan olehnya. Wallahua’lam…

Sekarang saya lebih senang menyebut Masjid tersebut sebagai MASJID CINTA daripada Masjid Tiban sebagaimana yang populer selama ini. Ya… MASJID “CINTA”, TUREN, Malang.

Salam CINTA,

SONNEF
Sby, 30/12/2014

1 Komentar (+add yours?)

  1. arsosdasmax
    Jan 14, 2015 @ 09:14:38

    SETUJU! Masjid Spektakuler ini memang layak disebut sebagai Masjid Cinta.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: