NASRUDIN Yang Jenaka

Dalam sebuah perjalanan, kapal yang ditumpangi Nasrudin mengalami masalah. Lambung kapal bocor.
“Teman-teman, sebaiknya kita bersiap untuk kehidupan akherat,” kata Nasrudin serius setelah mengamati kondisi kapal.
Para penumpang tertawa mendengar apa yang disampaikan Nasrudin. Menurut mereka, kapal masih bisa diperbaiki.
Ombak menghantam kapal. Menggoyangnya. Membuatnya miring dan siap tenggelam. Kepanikan terjadi.
Para penumpang yang sebelumnya menertawakan peringatan Nasrudin, mulai berlutut dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa… memohon ampun pada Tuhan atas segala salah dan dosa yang telah mereka perbuat. Mereka berjanji untuk berbuat kebajikan apabila selamat. Bahkan ada di antaranya yang menangis tersedu-sedu berharap Tuhan segera memberi pertolongan.
“Teman-teman!” teriak Nasrudin. “Sudahlah! Jangan boros dengan kata-kata pertobatan kalian itu. “Percayalah, aku melihat daratan.!”
“APA?”
“HAH?!”
“YANG BENER!”
Doa-doa terhenti. Wajah para penumpang berubah sumringah. Mereka mencoba mencari posisi daratan yang dilihat Nasrudin.
Melihat reaksi para penumpang, Nasrudin tersenyum dan duduk dengan tenang. Kemudian ia berkata, “Apakah kalian tidak jadi meneruskan pertobatan dan menepati janji untuk selalu berbuat baik yang baru saja kalian lakukan?”

Seorang sahabatnya bertanya, “Nasrudin, berapa umurmu?”
Dengan mantap Nasrudin menjawab, “Empat puluh tahun.”
Sahabatnya itu terlihat bengong. “Bukankah dua tahun lalu, ketika aku tanya dengan hal yang sama, kamu juga menjawab umurmu empat puluh tahun?”
Nasrudin tersenyum. “Betul.”
Sahabatnya masih bingung. “Bagaimana bisa begitu?”
“O… itu namanya saya orang yang konsisten dengan umur.”

Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan, Nasrudin terpeleset dan hampir tercebur ke dalam sebuah kolam. Beruntung ada seseorang yang tidak dikenalnya dengan cepat memberi pertolongan dengan menarik tangan Nasrudin. Setelah kejadian itu, hampir setiap kali mereka bertemu, orang itu selalu mengingatkan Nasrudin akan apa yang pernah dilakukannya untuk menolong Nasrudin.
Pada suatu kesempatan, Nasrudin mengajak lelaki itu ke dekat kolam di mana dulu Nasrudin hendak tercebur. Ia lalu melompat ke dalam kolam itu. Dengan kepala menyembul ke permukaan, Nasrudin berteriak, “Lihatlah! Aku sekarang sudah tercebur dan benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi jika dulu engkau tidak menolongku. Sudah! Pergilah sana!”

3 Komentar (+add yours?)

  1. lasma keren
    Agu 11, 2012 @ 07:15:14

    Akakkaka..nancep, Pak.

    Balas

  2. SONNEF
    Agu 13, 2012 @ 07:04:04

    Nasrudin gitu lho… kelucuan dan kekonyolannya sungguh punya makna.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: