Ketergantungan Tehnologi, mustinya haram?

Ketika Sekolah SMA dulu, tampilan layar komputer yang ada yang saya temui, persis seperti kalkulator, berwarna hijau terang berkedip-kedip. Dan saat kuliah, saya biasa menerima kiriman duit dari orang tua lewat ‘wesel’ untuk ditukarkan di Kantor Pos. Sementara, di saat pertama pada masa kerja saya (1996), untuk mengirimkan pesan harus menelepon dulu ke layanan ‘Pager’ dengan kata-kata yang terbatas. Dan tehnologi berubah cepat. Saat itu di UAE saya bisa mengirim uang lewat ‘Money Changer’ dalam waktu 5 menit sampai ke tanah air, dan laptop (komputer jining) yang dijual bisa memutar musik dan film, sekaligus untuk berkomunikasi dalam video conference. Dibalik itu,  timbul tanda tanya saya tentang dampaknya terhadap diri kita. Akankah tehnologi yang demikian cepat selalu menjadikan kehidupan individu dan masyarakat lebih baik? Apakah ketergantungan terhadap tehnologi wajar adanya dan bisakah selalu bisa dipenuhi?
Sebuah studi yang digelar Kaisar Foundation, sebuah organisasi non-profit di Amerika Serikat yang kegiatannya fokus pada masalah kesehatan, menemukan bahwa anak muda yang menghabiskan waktu dengan media hiburan telah meningkat jumlahnya secara drastis. Hampir sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mengakses teknologi. Padahal ketika lima tahun lalu, saat studi ini digagas, para anak dan remaja ini kira-kira hanya menghabiskan waktu satu jam setiap harinya untuk mengulik perangkat elektroniknya tersebut.Dr. Michael Rich, Direktur dari Center on Media & Child Health mengatakan, sulit rasanya mengubah kebiasaan para anak-anak ini yang telah bergantung dengan kecanggihan teknologi. Ketergantungannya jika dianalogikan sudah seperti udara yang mereka hirup, air yang mereka minum, dan makanan yang mereka asup.(Internet sehat)
Profesor psikiatri dari Amerika, Gary Small menyatakan bahwa setiap hari berhubungan dengan sejumlah besar internet, ponsel dan produk teknologi lainnya, akan merubah cara kerja otak manusia. Bila penggunaan produk teknologi lebih dari waktu untuk kebersamaan dengan orang lain, ekspresi wajah dalam mengidentifikasi orang dan fungsi otak lainnya juga akan mengalami kemunduran. Dengan cara ini orang akan menjadi semakin aneh dan menyendiri, dan kehilangan minat belajar terhadap cara tradisional. Erabaru

Diterangkan juga bahwa Tenaga medis di Jepang melakukan pengujian kecerdasan terhadap 150 pemuda berusia antara 20-35 tahun yang sering menggunakan komputer, mereka menemukan lebih dari 10% memori mereka telah mengalami kemunduran serius, bahkan ada yang sudah tidak dapat mengingat nama-nama teman dan janji pertemuannya.
Bagi saya, suasana kebersamaan dengan teman, saudara, kerabat, tetangga lebih membahagiakan. Saya bisa meneliti mimik dan ekpresi mereka ketika sedang senang, ceria atau pun sedih berduka dengan utuh. Itu lebih dalam maknanya dan lebih dan terekam dalam benak. Katimbang melihat di video lewat video chatting. (wawan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: