Catatan Kecil Sebuah Hati: IBU

Kita menyebut tanah tumpah darah sebagai Ibu Pertiwi. Para leluhur kita sebut Nenek Moyang. Pusat pemerintahan kita sebut sebagai Ibukota. Bahkan Bumi bisa diartikan sebagai Ibu Kami. Kata perempuan bermakna orang yang di-empu-kan, orang yang dituakan, dimuliakan.

Sobat, tidakkah begitu luar biasa aura ke-IBU-an menyelimuti kehidupan kita sehingga nama itu tersemat pada hal-hal yang istimewa. Kita menghidupkan IBU pada simbol-simbol kebesaran. Bahkan ada hari besar khusus untuk Ibu. Gusti Allah pun, melalui Nabi-Nya, mengingatkan bahwa “Sorga berada di bawah telapak kaki Ibu”.
Siapa yang pertama kali membelai kita begitu terlahir ke dunia? Siapa yang pertama kali mengajari kita tentang kehidupan? Menuntun kita melangkah. Membimbing kita mengeja a-b-c kehidupan. Tentulah IBU!
Sobat, maka sudah selayaknya Kaum Ibu dimuliakan. Sudah selayaknya para Calon Ibu dijaga dan dilindungi. Sudah seharusnya harkat dan martabat perempuan disepuh hingga berkilau bagi keberlangsungan moral kehidupan. Sebagaimana mimpi Ibu Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Terang tidak hanya untuk kaum perempuan. Tapi terang untuk setiap manusia yang selayaknya memuliakan IBU.

Jakarta, 21 April 2011
SONNEF

1 Komentar (+add yours?)

  1. Udik Kidu
    Apr 26, 2011 @ 00:52:58

    Ada juga Ibu Jari, yang diacungkan untuk hal-hal yang baik dan bagus.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: