Catatan Kecil Sebuah Hati: PROLOG HATI YANG MERONA

Aku terpekur dalam kesendirianku. Mencoba berkawan sepi, membiarkan diri dilarung sejuta rasa hingga tak mampu berbuat apa. Terlena… terbuai… lemas sekujur tubuh tak berdaya.

Bayang-bayang hidup menembus masa. Satu-satu terburai dalam rangkaian memori hati. Menapaki kembali pengembaraan jiwaku.

Tangisan… Senyuman… Kebahagiaan… Kedukaan…

Satu-satu terbuka pintu-pintu ruang hatiku. Dada berdegup. Kepala berdenyut. Mataku terpejam… sesaat kemudian kubuka.

Menyakiti dan disakiti. Mengkhianati dan dikhianati. Menolong dan ditolong. Membahagiakan dan dibahagiakan.

Apakah yang semestinya aku cari? Apakah yang seharusnya aku miliki? Kalau ternyata bahagiaku luka. Kalau hakekatnya ketenanganku hampa. Harapan dibalut kecewa. Mimpi disemukan angan.

Aku memang tidak sempurna. Langkahku berkelok-kelok tak istiqomah. Nuraniku dibalut ego. Akalku terkontaminasi kondisi. Lalu… haruskah aku berteriak memberontak? Menggugat harkat kenikmatan? Padahal… tanpa meminta aku telah diberi. Tanpa susah payah aku telah memiliki. Mestikah aku pasrah? Membiarkan semua berlalu apa adanya.

Ah… lelah aku. Tapi kau minta aku tak menyerah. Kau minta aku tak berhenti berusaha.

Ah… kau Cinta… tidakkah kau melihat keterbelengguanku? Aku masih saja sering salah langkah. Tergoda untuk berbelok arah. Niatku ternoda jumawa. Ketulusanku terajut pamrih. Upayaku disetubuhi emosi. Aku benci semua ini. Aku benci diriku sendiri begini.

Cinta… betapa terjalnya jalan ke arahmu. Betapa besarnya kekuatan hati dibutuhkan untuk memilikimu. Betapa luasnya rentang jiwa dikembangkan untuk tetap memelukmu.

Terkadang aku berhasil mendapatkanmu. Menyemayamkanmu di kedalaman hatiku. Membawamu melangkah bersamaku. Menjadikanmu penyejuk kalbuku. Menjelma sebagai cahaya mataku. Tapi… tak lama… Kau terlepas dariku. Membuatku terpuruk kembali. Aku pun hilang kendali. Terombang-ambing tak tentu arah. Aku tersesat tanpamu.
Lalu… dari derasnya gelombang kegalauan, aku kembali mencoba menggapaimu.

Oh, Cinta… masih adakah engkau dalam diriku? Masihkah engkau bersemai di antara goresan-goresan luka di hatiku?

Wahai, Cinta! Samar kudengar bisikanmu. Lembut merayapi relung-relung kalbu. Kau meminta sepercik asaku. Kau mengharap kesabaranku. Kau mohon aku berdamai dengan perintangku.

Aku tertunduk seiring rasa malu membalut wajah. Aku rebah dalam kebisuan. Pandanganku hampa menerawang. Kau memang tak pernah beranjak pergi. Kau tenang di singgasana agungmu. Hanya saja aku begitu sering mengabaikanmu. Membiarkan diriku terseret menjauh darimu. Senyum keteduhanmu tak pernah surut.

Aku terpejam. Berharap mimpi-mimpiku menjadi nyata. Sepi pun menyelimuti. Sunyi berhembus membawa ketenangan. Dan saat aku terjaga… tarian setumpuk keinginan menggelitik nafsu. Hasrat fana kesenangan membirahi.

Aaaaah… aku kembali terbelenggu ketakkuasaan. Kugenggam erat tali-tali jiwamu. Bertahan dari deraan goda. Sakit rasanya untuk tetap diam. Segenggam hatiku menggelembung berdarah.

Kilatan jarum-jarum cerca… Sayatan caci-maki… Hujaman olok-olok… Merobek-robek gendang telingaku.

Aku bergetar gemetar. Mukaku memerah. Dadaku berguncang. Kugenggam erat tali-tali jiwamu. Kupeluk engkau dalam gemetar jiwaku.

Aku berpeluh… panas… mendidih…
Cintaaaaa… selamatkan aku!
Aku sungguh ingin jiwaku menyatu dengan jiwamu.
Kucoba bertahan. Letih. Melelahkan.

Aku hampir tak tahan lagi ketika tiba-tiba kesejukan hadir menyirami. Aku terpesona, ternganga. Betapa damainya. Betapa nikmatnya. Inikah Cinta?

Itu hanyalah setitik rasanya, katamu.

WOW!!! Lalu… bisakah aku terus merasakannya?

Kau tersenyum. Kau bilang semua terserah padaku. Tergantung seberapa jauh aku memahamimu. Tergantung bagaimana aku mengejahwantahkan dirimu. Seiring betapa besar upaya dan pasrahku.

Ya… Kau memang Sang Cinta. Kesejatian manusia. Kau tak pernah mengharap setengah, karena keutuhanlah dirimu. Semoga saja aku mampu untuk bertahan di keagungan rasamu. Semoga saja aku memahami hakekatmu, bukan sekedar merenungimu.

Tapi, Cinta… aku butuh pertolonganmu. Butuh kekuatan darimu. Bantulah aku bila memang kau menginginkanku. Bila memang kau adalah kesejatianku.

(SONNEF – Jkt, 16-6-2007)

2 Komentar (+add yours?)

  1. DEE
    Nov 26, 2010 @ 07:24:16

    Tulisan gambar diri manusia sesungguhnya yang tersirat dan tersurat….
    siapakah aku??? aku, siapa ya????
    mengapa seringkali aku menganggungkan Sang Aku-ku???
    Hendaklah aku melihat atau merenungkan ke dalam Aku
    hingga ku tahu siapa AKU sesungguhnya hingga ku bisa berdamai dengan Sang Aku

    Let Ego go… and Just let it Go

    Balas

  2. SONNEF
    Des 01, 2010 @ 02:47:49

    Setuju Bu Dian… LETS EGO GO!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: