Ternyata, Dunia Benar-benar Sedaun Kelor

Suatu ketika, kalau tidak salah sekitar tahun 2004 atau 2005, aku sedang menyambangi temen-temen yang tugas lapangan pada sebuah pameran perumahan yang diselenggarakan organiser tempatku kerja. Sedang asyik melihat persiapan di panggung hiburan, melintas sesosok yang wajahnya senantiasa dihiasi senyum. Aku tersentak. “I know him!” hatiku melonjak. Sontak aku menghampirinya yang terus menatapku dengan senyum ramaha dan akrab itu. Aku salami. Dan kami mengobrol. Beliau adalah guruku waktu di SMAN 10 SBY. Dan saat itu rupanya sedang berencana membeli sebuah rumah.
Tahu nggak pren… sepanjang obrolan itu sejatinya aku lupa nama beliau, padahal sosoknya begitu dikenal dan terkenal di SMA dulu. Dan aku sering ngobrol dengan beliau. Tapi… namanya siapa???? Kok aku bisa lupa ya…
Nekat… aku pun bertanya sambil memohon maaf sedalam-dalamnya karena memoriku gagal menemukan data beliau. Yang ada hanya wajah. Dan bapak guruku itu tersenyum, “Pak Admaji.” Ya Allah, bagaimana aku bisa lupa nama sesingkat itu dari sosok yang cukup dikenal. Hehehe… Sebuah pertemuan singkat tanpa sengaja yang begitu berkesan.
Lain hari, dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta setelah menghabiskan masa libur di Surabaya, telpon genggamku bernyanyi. Sebuah sms. “Halo, Pak Robertus! Ini saya, Agus. Temen waktu di SMA 10. Saya ditugaskan di Jakarta. Lagi nyari-nyari temen yang tahu Jakarta.”
Ada tanda tanya besar? Ini sms nyasar… tapi rasanya kok ya gak nyasar. Robertus adalah nama teman sekelasku. Dan aku arek SMA 10. Terus iki Agus sopo? Dari mana dia dapat nomorku dan mengira aku adalah Robertus? Penasaran… aku langsung aja telepon dia.
“Pak Robertus ya?”
“Saya bukan Robertus. Tapi bener aku alumni SMA 10. Robertus iku koncoku sak kelas. Iki sopo?”
“Agus. Agus Jabrik! Lho… sampeyan duduk Robertus ta?”
“Oala, Gus…. iyo-iyo… aku eling.”
“Koen sopo?”
“Sonnef.”
“Sonnef??? Waduh… lali aku.”
“@#$%*&####>X>Z>Z>Z” hehehe…
Singkat… aku dan Agus ngobrol-ngobrol. Ketawa-ketiwi…
Pada kesempatan lain… pada sebuah kegiatan di kantorku, aku merasa melihat seseorang yang aku kenal di SMA dulu. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Sebatas itu. Setahun kemudian… melalui facebook, tersambunglah silaturrahmi dengannya. Elvie Tauchida. Adik kelas waktu SMA. Setelah ngobrol-ngalor ngidul… ternyata dia tinggal tak jauh dari tempatku di Jakarta. Dan benar… dia memang pernah menghadiri kegiatan di kantorku dalam rangka mencari sekolah untuk anaknya. Oalaaaaa…..
Pren… bener kan… dunia ternyata memang sedaun kelor. Hehehe

Sonnef

3 Komentar (+add yours?)

  1. wawan
    Okt 22, 2010 @ 02:37:14

    he..he..he….sempitnya dunia.. seluas hati
    Pak Atmaji apa kabar beliaunya…and jadi rumahnya beliau dimana ?
    Agus Jabrik…si innocent ..Robertus gak pernah nongol yo?

    Balas

  2. irwan setiawan
    Okt 22, 2010 @ 02:45:50

    kayaknya kita harus sowan ke robertus kawan . . . .
    something what whit him ????????

    Balas

  3. SONNEF
    Nov 11, 2010 @ 10:20:20

    Memangnya Robertus kenapa, Wan?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: